2023 Orang Asing Cari Nafkah di Karawang

KARAWANG, RAKA – Kabupaten Karawang tidak hanya menjadi ‘gula’ bagi para pencari kerja di luar daerah, tapi juga diminati oleh warga negara asing. Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang, jumlah pekerja asing terus bertambah. Tahun 2015 tercatat ada 1.382 orang, tahun 2016 naik jadi 1.474 orang, tahun 2018 ada 2.535 orang. Tahun 2019 bertambah jadi 3.500 orang. Sementara tahun 2021, karena ada dampak corona menjadi 2023 orang.
Subkoordinator Penempatan Tenaga Kerja Dalam dan Luar Negeri Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang Ijun Junaedi mengatakan, jumlah tenaga kerja asing di Karawang tahun ini sesuai dengan laporan keberadaan asing. “Sedangkan perpanjangan Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) ada 638 orang,” ungkapnya kepada Radar Karawang.
Ia melanjutkan, target retribusi dari IMTA tahun 2021 adalah Rp13,2 miliar. Namun, hanya tercapai 77,86 persen atau Rp10,2 miliar. “Mayoritas di Kabupaten Karawang yang bekerja tenaga asing itu kebanyakan orang Cina, Taiwan, Korea, Jepang, sebagian India,” katanya.
Menurutnya, pemungutan retribusi IMTA untuk tahun ini terbentur Undang Undang Cipta Kerja, karena penarikannya dikembalikan ke pemerintah pusat. Namun, pemerintah daerah bisa kembali menarik retribusi jika ada penyesuaian peraturan daerah. “Kami sedang melakukan pembahasan dan mengajukan ke pusat untuk melakukan penyesuaian perda, karena kami butuh dana untuk pembangunan di Kabupaten Karawang. Itulah harapan kami ingin cepat-cepat terealisasi untuk penyelesaian perda,” paparnya.
Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kemenaker Suhartono mengatakan, dari banyaknya pekerja asing di bidang profesional, paling banyak dipekerjakan sebagai teknisi. Para pekerja itu mayoritas ditugaskan pada pemasangan alat-alat berat. Menurut Suhartono, tenaga asing dibutuhkan dalam hal ini untuk memudahkan penggunaan alat-alat berat yang umumnya pengoperasiannya menggunakan bahasa asing. “Untuk yang profesional ini adalah banyakan tenaga teknis, teknisi, misalnya untuk pemasangan alat-alat berat,” ujar Suhartono.
Suhartono pun mengeklaim, para pekerja asing tersebut tidak lama dipekerjakan di Indonesia. Mereka disebut hanya bekerja selama kurang lebih 6 bulan. “Karena ini berkaitan dengan masalah untuk bahasa, petunjuknya (petunjuk alat) dari negara asal mereka, jadi ini membutuhkan,” kata dia.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran, Yogi Suprayogi Sugandi menilai, banyaknya alat-alat berat yang didatangkan dari luar negeri untuk keperluan pembangunan menyebabkan Indonesia harus mempekerjakan tenaga asing. “Saya melihat banyak barang-barang baru yang orang Indonesia saya pikir belum bisa sampai ke situ,” kata Yogi
Menurut Yogi, jika situasinya demikian, mau tak mau tenaga asing harus dipekerjakan. Namun demikian, ia mengatakan, seharusnya tenaga asing juga bertindak sebagai pendamping bagi pekerja Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tak hanya mempekerjakan tenaga asing, tapi juga mendapat ilmu yang ditransfer oleh para pekerja asing. “Harus dipastikan bahwa ke depan bangsa kita bisa mengoperasikan itu. Saya pikir tenaga kerja asing itu ada untuk menjadi pendamping, transfer knowledge (pengetahuan),” ujarnya. (psn/mal/jp)

Artikel 2023 Orang Asing Cari Nafkah di Karawang pertama kali tampil pada Radar Karawang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.