Alasan Seniman Cianjur Pilih Berkarir di Jakarta

RADARCIANJUR.com– Fauzi Arif Suhada (21) remaja asal Kampung Wargaluyu Desa Nagrak Kecamatan Cianjur terbilang sebagai remaja yang kreatif dan bisa memanfaatkan celah. Terlebih di dunia yang kini serba mengandalkan digital ini.

Dirinya kini berkarir sebagai illustrator dan desainer grafis di DKI Jakarta. Pemuda yang sempat lulus dari MAN 1 Cianjur pada 2019 ini, langsung menempuh pendidikan singkat di bidang desain grafis di Depok. Setelah itu, ia pun menjadi seorang desainer grafis bagi Lembaga Amil Zakat Al-Azhar Jakarta.

Berawal dari hobinya menggambar sejak kecil, Fauzi mulai merambah ke dunia illustrator digital sejak dua tahun lalu di Jakarta. Baginya, Ibu Kota menjadi ladang potensial untuk para seniman.

Fauzi mengungkapkan alasannya memilih memulai karir di Jakarta ketimbang Cianjur. Ia menilai, Jakarta punya peluang kerja lebih banyak.

“Karena seperti kebanyakan pandangan perantau yang sama-sama dari cianjur dan sekitarnya bahwa bekerja diluar kota mendapat pilihan dan peluang kerja lebih banyak, selebihnya gaji yang lebih besar,” ujarnya.

Selain bekerja formal sebagai desainer grafis, Fauzi pun berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan Jakarta Jurusan Desain Komunikasi Visual.

“Kerja sampingan sebagai freelancer desain grafis juga. Saat ini sedang merintis komik strip yang update setiap akhir pekan di instagram @rifkomik dan selebihnya membuat ilustrasi naratif di akun pribadi saya,” ungkapnya.

BACA JUGA : Kegiatan Bupati di Desa Manjur Terkendala Gangguan Teknis

Meskipun ia memilih berkarir di Jakarta, seniman digital seperti illustrator dan desain grafis di Cianjur bisa potensial. Terlebih dengan kemudahan internet.

Bahkan, illustrator bisa mendapatkan kesejahteraan dan lepas dari kerentanan ekonomi. Terlebih, dengan platform digital. Sebagai desainer grafis dan Illustrator di Jakarta, Fauzi bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp3 juta dalam sebulan.

“Sangat berpeluang, karena illustrator pada zaman sekarang tidak harus selalu menempel pada media cetak untuk dapat penghasilan. Melainkan bisa lebih dari itu dengan banyaknya platform digital yang menyediakan jasa freelance baik lokal maupun internasional,” paparnya.

Akan tetapi, apresiasi seni masyarakat Kabupaten Cianjur masih kurang. Tidak hanya itu, ia merasa tidak memiliki ruang ekspresi yang cukup sebagai seniman.

“Yang saya ketahui bahwa apresiasi seni di Cianjur masih belum cukup diberikan ruang untuk para seniman berekspresi. Contoh, kurangnya ajang pameran yang diselenggarakan oleh pemda,” jelasnya.

Berbeda dengan DKI Jakarta, dirinya mengungkapkan, yang menjadi pusat ekonomi. Banyak gelaran seni yang bisa menjadi ruang ekspresi seniman di Indonesia.

“Di daerah pusat ekonomi dan budaya seperti Jakarta pagelaran seniman di museum sering sekali diadakan. Bahkan, tidak sedikit yang melibatkan peserta dari luar Jakarta untuk ikut memeriahkan event tersebut,” tuturnya.

Di Cianjur, umumnya para seniman digital seperti illustrator hanya berkarya di rumah masing-masing. Namun, sangat minim pagelaran yang mewadahi seniman.

Fauzi pun memberikan saran kepada Kabupaten Cianjur agar bisa lebih mengapresiasi seniman. Misalnya dengan membuat beasiswa seniman bagi. Selain itu, bisa dengan membuat sayembara illustrasi maskot kabupaten.

“Sementara di Cianjur umumnya para pelukis atau illustrator mereka terus berkarya di rumah masing-masing sampai karya mereka disorot oleh media, namun tak sedikit dari mereka inisiatif membuat komunitas dan membuat event kecil-kecilan di komunitasnya,” paparnya.

“Bisa dengan mengadakan beasiswa seniman khusunya bagi pelajar sehingga mereka tertarik untuk terus berkarya. Diandakannya sayembara ilustrasi maskot kota layaknya maskot piala dunia,” sambungnya.

Berbeda halnya dengan Opik Taupik (23). Pelukis sketsa portrait ini sudah tiga tahun menggeluti bidang seni. Bahkan, dirinya menggunakan ruang digital yaitu akun Instagram @opiktaupik_art sebagai sarana promosi untuk mendapatkan pelanggan.

Pelukis yang juga pengajar diniyah ini mengatakan, belum pernah mendengar adanya pagelaran seni yang digelar di Kota Santri.

Meskipun begitu, dirinya menilai untuk bisa sukses di dunia seni, tidak harus berkarir di luar kota. Dengan ruang digital, pekerja seni bisa mendapatkan kesempatan yang potensial.

“Menurut saya tidak perlu keluar kota, untuk berkarir, di Cianjur juga cukup. Dengan digital. Melalui media sosial jangkauannya lebih luas. Lebih mudah,” ungkapnya.

“Kalo untuk karir zaman sekarang dengan sosial media, tidak perlu keluar kota untuk karya kita dikenal,” tuturnya.

Meskipun begitu, Opik mengaku tidak pernah mendengar ada pagelaran seni yang digelar di Kabupaten Cianjur. Padahal, ia tertarik untuk mengikutinya.

“Cuman kalo ada pemeran, ingin mengikuti pameran dan lokasinya di luar kota apa, salahnya juga untuk mengikuti,” terangnya.

Opik menjelaskan, profesi pelukis sketsa cukup menjanjikan di era digital saat ini. Pernyataan ini tentu menepis bahwa pekerja seni dekat dengan kerentanan ekonomi.

“Cukup menjanjikan. Harga sketsa ratusan bahkan bisa sampai jutaan. Walau ada namanya digital art. Tapi banyak yg lebih memilih seni tradisional (buatan tangan langsung) jadi peminat seni bakalan tetap ada malah di era digital jangkauannya lebih luas dengan bantuan sosial media dan lain sebagainya,” paparnya.

Bahkan, Opik bisa menghasilkan Rp1 juta selama sebulan melukis sketsa portrait. Akan tetapi, selama pandemi Covid-19, orderan semakin menurun.

“Paling besar selama sebulan bisa mendapatkan Rp1 juta. Tapi, selama pandemi kemarin bahkan sempat nggak ada orderan sama sekali,” ungkapnya.

Kendati demikian, warga Kampung Lebe, Desa Sukawangi Kecamatan Warungkondang ini menjelaskan, harga lukisan sketsa tidak memiliki patokan yang pasti.

“Untuk harga relatif ga ada patokan yg pasti, tergantung yg buatnya mematok harga. Bisa lebih mahal bisa juga lebih murah. Tapi kalo tidak dipatok malah konsumen seenaknya memberikan harga,” jelasnya.

Dirinya pun mengaku tidak pernah mendapatkan cibiran, dengan kata lain menjelekkan hasil karyanya. Namun, ada hal unik yakni orang yang minta karya secara cuma-cuma.

“Kalau minta gratis malah banyak, kebanyakan yang minta gratis bukan teman, malah orang yang baru kenal di sosmed. Kenal juga engga malah minta gratis,” terangnya sembari tertawa.

BACA JUGA : 404 Jamaah Haji Cianjur Berangkat

Biasanya, para konsumen yang memesan lukisan sketsa ini memiliki keperluan yang beragam. Mulai dari kado, hingga pajangan.

“Konsumen keperluannya beragam, bisa untuk kado atau untuk sekedar pajangan di rumah, foto sendiri bahkan sekeluarga. Kado ulang tahun. Pernikahan, dan lain-lain,” tuturnya.

Opik berharap, Kabupaten Cianjur bisa lebih menghargai seni. Dirinya menilai, masih banyak pihak yang menyepelekan seni.

“Banyak yg bilang cuman gambar aja ko mahal. Cuman modal pensil sama kertas. Semahal itu. Banyak yang berpikir demikian,” jelasnya.

“Semoga diadakan pagelaran atau pameran seni di Cianjur. Satu lagi semoga ada komunitas seni di Cianjur, karena dengan adanya komunitas bisa saling sharing saling berbagi ilmu dan informasi di antara seniman,” harapnya. (kim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.