Depok  

Cegah Pelecehan Seksual, PEPS Buat Pekerja Kemanusiaan

RADARDEPOK.COM, DEPOK –  Sebagai kelompok yang peduli akan nasib Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Perkumpulan Feminim Mandiri Lestari (Female) Plus membekali pekerja kemanusiaan untuk mengantisipasi terjadinya pelecehan seksual. Adapun pembekalan itu dibalut dalam diskusi komunitas tentang Hukum dan HAM di tingkat kota/kabupaten.

Paralegal Officer Female Plus, Dima Safitri mengatakan, pembekalana itu dilatarbelakangi kebutuhan dari meluasnya stigma, diskriminasi, dan pelanggaran hak orang dengan HIV dan AIDS, orang dengan TB dan populasi kunci. Selain itu, ada juga tantangan ketersediaan dan aksesibilitas layanan, undang-undang dan kebijakan hukuman yang relevan dengan HIV dan TB.

“Dan penolakan, pengucilan dan pelanggaran hak dalam konteks keluarga, kehidupan sosial, pendidikan, dan tempat kerja menghalangi orang dengan HIV dan AIDS, orang dengan TB dan populasi kunci dari layanan yang efektif dan berkualitas baik,” ungkapnya kepada Radar Depok di Ithea Coffee & Kitchen, Jalan Boulevard GDC, Cluster Azalea, Jatimulya, Cilodong, Selasa (2/8).

Dia mengatakan, epidemi HIV di Indonesia sangat berkaitan dengan kerentanan pada kelompok-kelompok tertentu. utamanya, pada kelompok pengguna Napza jarum suntik, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, transgender perempuan, dan pekerja seks yang dikenal dengan istilah populasi kunci.

“Persoalan yang belum tuntas hingga hari ini adalah tingginya stigma dan diskriminasi terhadap Orang yang Hidup dengan HIV. Diskriminasi ini dapat ditemukan secara marak pada kehidupan privat maupun publik, terutama sekali pada pelayanan untuk populasi kunci tersebut,” terang Dima.

Menurut Dima, hambatan dalam pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) selalu muncul dengan variasi bentuk dan aktornya, baik yang dilakukan negara maupun yang dibiarkan negara.  Karena itu, Female Plus melalui pendanaan Global Fund melalui Principal Recipient (PR) Indonesia Aids Coalition (IAC) dalam program Community System  Strengthening Reducing Human Rights (CSSRHR) mengadakan pertemuan tersebut.

“Tujuannya yaitu berdiskusi informasi terkini mengenai isu-isu terkait Hukum, kebijakan, HAM terkait penanggulangan HIV disetiap distrik,” tuturnya.

Narasumber dari IAC, Heru Pribadi mengungkapkan, pihaknya menyoroti pekerja kemanusiaan yang dapat menjadi pelaku Eksploitasi dan Penyalahgunaan Seksual (EPS).

“Ekploitasi seksual adalah segala tindakan atau upaya penyalahgunaan kekuasaan atau kepercayaan terhadap mereka yang lebih rentan untuk tujuan seksual. Sedangkan, penyalahgunaan seksual adalah tindakan atau upaya pemaksaan dengan tujuan seksual yang dilakukan baik melalui ancaman fisik maupun memanfaatkan situasi ketidaksetaraan,” ungkapnya.

Menurut Heru, pihaknya sengaja menggalakan sosialiasi Perlindungan EPS (PEPS) yang dilakukan oleh pekerja kemanusiaan termasuk pelayanan masyarakat. Hal tersebut demi menghindari adanya EPS yang dilakukan pekerja kemanusiaan terhadap populasi kunci.

“Mengapa PEPS Penting ? Banyak kasus muncul sejak 2002 yang membutuhkan perhatiankhusus, mengancam kehidupan orang – orang yang harusnya dilayani atau dilindungi, merusak reputasi lembaga dan masyarakat pemberi bantuan dan melanggar standar dan norma hukum internasional yang berlaku universal,” tutupnya. (rd/ger)

Jurnalis : Gerard Soeharly

Editor : Junior Williandro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.