Cianjur Persiapkan Tameng Halau BA.4 dan BA.5

RADARCIANJUR.com– Kabupaten Cianjur nampaknya belum bernafas lega pasca Covid-19 varian Omicron. Pasalnya, saat ini sudah kembali hadir Covid-19 varian BA.4 dan BA.5. Tentunya Kota Santri harus kembali mengencangkan pengawasan dan penjagaan agar tidak terjadi penyebaran serta penularan.

Berdasarkan data dari Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Cianjur, saat ini di Kota Santri belum ditemukan kembali kasus baru Covid-19.

Hal tersebut diungkapkan oleh Jubir Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal. Dirinya mengatakan, dari empat rumah sakit rujukan yakni RSUD Sayang, RSUD Cimacan, RSUD Pagelaran dan RSDH, Bed Occupancy Rate (BOR) dinyatakan kosong.

“Kemarin ada rapat koordinasi dengan provinsi, sudah ada di Jawa Barat mengenai varian baru, tetapi memang masih datanya dirahasiakan. tapi alhamdulillah di Cianjur hingga hari ini BOR di empat rumah sakit rujukan tidak ada kasus. Di isolasi terpusat di Bumi Ciherang tidak ada yang dirawat disana, dirasa 20 kasus tersebut tidak di Cianjur, kemungkinan di kabupaten kota lain. itu sudah transmisi lokal dari informasinya,” ujarnya.

Lanjut pria yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur ini. Pihaknya pun tidak tinggal diam. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya sudah membuat surat edaran ke setiap puskesmas-puskesmas untuk memprioritaskan dan memperbanyak testing serta tracing.

“Jika testing nol, tracingnya pun nol. Tapi jika ada kasus, maka tracing harus diperbanyak, minimal satu banding 30. Satu kasus, 30 kontak erat,” ungkapnya.

Mengenai pengawasan keramaian. Dirinya menambahkan, saat ini masih melihat situasi. Kapan harus stop kegiatan, kapan bisa memulai. Saat ini pihaknya belum melakukan pembatasan, karena situasinya masih memungkinkan untuk tidak ada pembatasan yang sangat ketat.

Selain itu. Mengenai penggunaan masker, dirinya meminta agar masyarakat tidak menyalah artikan mengenai bebas melepas masker di luar ruangan.

“Di luar ruangan bukan berarti bebas masker tanpa jaga jarak, artinya protokol kesehatan yang tidak dibebaskan itu berkerumun dan menjaga jarak menjadi wajib. Tetapi harus menghindari kerumunan dan kontak kurang dari dua meter,” jelasnya.

Perihal pengawasan untuk pendatang saat ini di tatanan desa, Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 masih aktif dan belum dibubarkan.

“Masih sering melakukan rapat koordinasi dan evaluasi bersama Forkopimcam yang turut dipantau Satgas Percepatan Penanganan Covid-19. Pengawasan termasuk di tempat wisata,” ungkapnya.

Sementara untuk tes, teknis dan alatnya masih seperti sebelumnya. Pasalnya, secara kualitatif, bahwa ini adalah virus Covid-19. Tidak bisa menentukan bahwa ini subvarian BA.4, BA.5, Delta dan Omicron.

“Tetapi yang jelas dengan tes yang dimiliki, hanya bisa mengindentifikasi bahwa positif atau negatif Covid-19,” paparnya.

“Gejala sama, lebih ke arah flu yang lebih dominan, tingkat keparahannya di atas Omicron, tapi lebih cepat sembuh setelah dilakukan perawatan dan pengobatan. Isolasi sama yakni 10 hari,” sambungnya. (kim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.