Depok  

COVER STORY, Denyut Pasar Malam di Depok yang Masih Menggeliat : Kesukaan Anak-anak, Wahana Dicek Berkala, Selalu Berpindah

Pasar Malam. Sesuai namanya, akan aktif pada malam hari. Sebuah tempat huburan sederhana bagi masyarakat. Dulu, era 90-an sampai 2000-an, Pasar Malam begitu banyak menjamur. Mereka nomaden. Berpindah-pindah. Cukup sediakan arena lapang, mereka akan berdiam selama beberapa pekan, untuk kemudian menyasar lokasi lain. Bagaimana denyut Pasar Malam saat ini?

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM, Gemerlap lampu warna-warni di Jalan Merdeka, Sukmajaya menarik hati untuk singgah. Cuaca malam dan sehabis hujan, tentu sejuk menyelimuti badan.

Pada area tanah seukuran lapangan sepakbola, sejumlah wahana permainan sedang melayani konsumen. Mayoritas anak-anak. Ditemani orangtua di sampingnya, sembari mengabadikan momen lewat layar telepon genggam pintar. Tanah becek tak menganggu kebahagiaan.

BAHAGIA : Dua orang pengunjung ketika melempar gelang yang menjadi salah satu permainan wahana anak di Jalan Merdeka, Kecamatan Sukmajaya. ARNET/RADAR DEPOK

Lahan kosong di tepian Jalan Merdeka itu, diketahui milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok. Sudah hampir beberapa waktu ini dijadikan lokasi Pasar Malam. Untuk menyewa lahan dinas tersebut, tak mahal. Kisaran ratusan ribu saja.

Ternyata masyarakat masih sangat berminat dengan hiburan yang disajikan tersebut. Terutama harganya terjangkau, cukup dengan Rp10 ribu sudah bisa merasakan satu wahana.

Seharinya bisa mendatangkan 100 sampai 150 pengunjung. Itu hari kerja. Kalau akhir pekan, jumlahnya berganda dua kali lipat. 300 sampai 400 orang.

Omsetnya juga beragam, mulai dari satu digit sampai dua digit dalam satu hari, jika cuaca sangat bersahabat. Mereka, para penyedia wahana anak ini juga saling koordinasi untuk berbagi tempat dan mengincar target.

BAYAR DULU : Salah satu tim di loket pembelian tiket ketika sedang melayani pengunjung wahana anak di Jalan Merdeka, Kecamatan Sukmajaya. ARNET/RADAR DEPOK

“Kendalanya paling utama itu di cuaca, kalau hujan bisa tidak ada pengunjung sama sekali. Beberapa hari ini memang kurang bersahabat ya,” kata Koordinator Wahana Anak Merdeka, Boy kepada Radar Depok di lokasi, Rabu (15/6).

Katanya, kendala lain berada pada perawatan wahana. Tapi dipastikan keamanan serta kenyamanan selalu jadi prioritas utama.

Tiga hari sekali kondisi wahana selalu dicek secara keseluruhan. Namun selama Boy bergelut 15 tahun di dunia wahana anak nomaden alias tidak menetap ini, tidak ada kerusakan berat. Perbaikan hanya di mur atau baut yang harus dikecangkan.

“Kalau pun sama dinamo atau mesin langsung kita ganti, kita punya cadangan. Kita selalu cek sebelum buka. Jadi keamanan pasti terjamin,” ungkap pria bertopi dengan baju merah.

Bukan cuma itu kendalanya. Ada lagi kehadiran oknum ‘tampang sangar’. Mereka selalu menghampiri setiap akhir pekan untuk meminta jatah. Mereka tahu jika akhir pekan, omset pengelola akan cukup banyak.

Ada delapan wahana yang tersaji, mulai dari game lempar gelang yang menjanjikan ragam hadiah jika berhasil maupun gagal, bianglala, trampolin, kincir air, komedi puter, dan lainnya, yang tentunya sangat diminati masyarakat.

Masyarakat harus menanti dengan sabar, karena wahana yang begitu ceria di saat malam ini, mulai buka usai ibadah magrib. Dengan 12 orang yang bekerja sama sebagai tim untuk menyajikan hiburan untuk rakyat.

Boy menjelaskan, sebelum membuka wahana tersebut, koordinasi harus dilakukan tim. Tiga elemen utama. Polsek Sukmajaya, Koramil Sukmajaya, dan Kecamatan Sukmajaya.

Itu yang utama. Belum lagi warga setempat yang juga harus dilibatkan. Lalu, Kelurahan Abadijaya, dan tak lupa RT/RW setempat.

Masyarakat jangan khawatir, meski hanya satu bulan wahana anak itu tapi tim mereka akan berlanjut di kawasan Pasar Pucung, tepatnya di Jalan Perhubungan, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong.

“Kita disini (Jalan Merdeka) sampe tanggal 20 Juni ini. Habis itu lanjut ke dekat kantor Dishub Kota Depok. Alhamdulilah semua sudah diurus, izinnya dan disana wahananya bertambah karena lahannya lebih luas,” kata Boy.

Ternyata yang disajikan Boy dan kawan-kawan, sangat dinantikan masyarakat. Salah satunya warga Sukmajaya, Firdaus, yang senang menemani dua anaknya bermain.

Katanya, wahana ini jadi budaya masyarat Indonesia, pertunjukan komedi puter dengan harga terjangkau. Tentunya sangat membantu orang tua dalam membahagiakan anak secara sederhana.

“Ini melatih motorik anak, bersilaturahmi dengan teman lain, berjumpa tetangga,” katanya yang masih lengkap berpakaian kerja.

Memang sangat diharapkan wahana semacam ini bisa terus menjamur dengan dukungan dari pemerintah. Keterlibatan pemerintah amat penting, pertama membantu lapangan kerja buat yang menyediakan, kedua berikan kebahagiaan anak. (*)

Editor : Junior Williandro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.