Hepatitis Akut Serang Bekasi

Hepatitis

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pandemi Covid-19 belum juga selesai, wabah penyakit baru justru mulai menjangkiti. Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, saat ini tengah ketar-ketir menghadapi serangan penyakit Hepatitis akut. Penyebab mewabahnya penyakit mematikan ini masih misterius. Teranyar, seorang warga Kota Bekasi dikabarkan telah terjangkiti dan kini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Hepatitis akut telah ditetapkan sebagai Keadaan Luar Biasa (KLB) oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada pertengahan bulan April lalu. Setelah laporan dari beberapa negara di dunia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan telah menerima laporan tiga pasien Hepatitis akut meninggal dunia di Jakarta dalam rentang waktu 16 sampai 30 April lalu.

Bacaan Lainnya

Dinas Kesehatan (Dinkes) di tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota sampai RS diminta untuk melakukan pemantauan terhadap temuan kasus suspek lewat surat edaran yang telah diterbitkan. Penyakit misterius ini disebut telah menjangkit anak usia satu bulan sampai 16 tahun.

Usai apel perdana kemarin, Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Bekasi, Tri Adhianto menyebut bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi telah menerima laporan satu kasus. Pasien sempat di rawat di salah satu RS swasta sebelum akhirnya dirujuk ke RSCM.

“Hari ini saya kita masih belum ada lonjakan, dan kemarin ada satu bukan warga Kota Bekasi, dan sudah dirujuk ke RSCM,” katanya, Senin (9/5).

Ia memastikan satu pasien tersebut bukan warga Kota Bekasi, sehingga masyarakat Kota Bekasi bisa cukup tenang dan menjalankan pola hidup sehat.

Pasca temuan satu kasus di Fasilitas Kesehatan (Faskes) di wilayahnya, pihaknya akan segera mengedukasi perangkat sampai di tingkat Posyandu untuk memberikan sosialisasi pencegahan penyakit Hepatitis akut ini.

“Nanti Posyandu akan kita berikan edukasi sebagai langkah untuk melakukan sosialisasi terkait dengan upaya pencegahan penyebaran Hepatitis ini,” tambahnya.

Laporan kasus di dunia pertama kali diterima oleh WHO sebanyak 10 kasus di Inggris rs pada tanggal 5 April, jumlah kasus dari berbagai negara semakin hingga menyentuh 169 kasus di 12 negara pada 21 April. Penderita Hepatitis akut diketahui menderita gejala sakit perut, diare, warna urin kecokelatan, mual dan muntah, hingga perubahan warna feses menjadi pucat.

Laporan terbaru Kemenkes kemarin, total ada 15 kasus Hepatitis akut di Indonesia. Di dunia kata Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, paling besar ada di Inggris sebanyak 115 kasus.

“Sekarang kondisinya di Indonesia ada 15 kasus,” kata Budi.

Sebagai upaya pencegahan, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran pada 23 April lalu. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat dan Inggris untuk meneliti penyebab penyakit ini.

Hasil sementara ini, belum dipastikan penyebab Hepatitis akut. Hasil penelitian laboratorium sebagian kasus didapati adenovirus 41, sebagian lagi tidak didapati keberadaan adenovirus 41.

Budi mengingatkan kepada masyarakat jika hasil pengecekan pengecekan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) dan Serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) diatas 100, sebaiknya dirujuk ke Faskes terdekat. Dalam kondisi normal SGPT dan SGOT menunjukkan berkisar di angka 30.

“Sekarang sedang dilakukan bersama-sama oleh Indonesia bekerjasama dengan WHO, dan juga kita bekerjasama dengan Amerika dan Inggris untuk bisa mendeteksi secara ketat penyebab penyakit ini apa,” tambahnya.

Disampaikan bahwa virus tersebut menular lewat asupan makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan cara rajin mencuci tangan dan memastikan asupan makanan dalam keadaan bersih.

Sedangkan ciri-ciri penderitanya mengalami gejala diare dan demam. Jika sudah merasakan gejala ini, pilihan paling baik adalah memeriksakan diri ke Faskes terdekat.

Sementara itu, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menjabarkan Hepatitis akut bisa menjadi pandemi, hanya saja potensinya sangat kecil. Pernyataan ini didukung oleh kriteria pandemi belum sepenuhnya terpenuhi, dimana penyebaran virus baru terjadi di beberapa negara, belum lintas benua.

Kedua, data virus ini belum terbukti menjangkit semua usia, masih terbatas pada anak-anak. Namun, sebagai virus baru, Hepatitis akut tetap berpotensi menjadi pandemi.

“Itu semua belum jelas sehingga ini tidak bisa kita anggap enteng. Karena ketidakjelasan itu membuat kita seperti menghadapi musuh yang juga tidak jelas, kan berbahaya, bagaimana mengatasinya,” paparnya.

Dicky melihat virus yang menjangkit penderita Hepatitis akut ini masih erat kaitannya dengan virus Covid-19. Meskipun, hipotesa ini harus diperkuat dengan penelitian lebih lanjut.

Pasalnya, virus Covid-19 jelas sejak awal dapat merusak organ dalam manusia termasuk hati, tidak hanya pada anak-anak, tapi juga pada orang dewasa.

“Saya melihatnya sih masih ada kaitan erat walaupun ini musti dibuktikan. Entah sebagai long covidnya, atau akut dari Covid itu sendiri,” tukasnya. (Sur)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.