Kartini Masa Kini Kota Depok, Djumiati : Sekolahkan Anak Sampai Sarjana, jadi Juru Pemandi Jenazah

perempuan tangguh 9pGLzc

Semangat dan perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini masih tetap membara sampai saat ini. Perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat wanita beserta emansipasinya menginspirasi banyak wanita masa kini.

Laporan : Indra Abertnego Siregar

RADARDEPOK.COM, Siang yang terik menyelimuti halaman kantor Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya. Tampak seorang wanita paruh baya sedang berbincangg ria di dalam aula kantor Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, bersama ibu-ibu lainnya.

Dia adalah Djumiati pengurus Paguyuban UMKM Kelurahan Mekarjaya. Perempuan yang akrab di sapa Ati ini, terkenal ramah dan murah senyum. Tapi siapa sangka dibalik senyum riangnya yang terpancar dalam kesehariannya, dia pernah menyimpan beban berat dalam khidupannya.

Ati merupakan seorang single parent setelah ditinggalkan suaminya pada tahun 2001 silam. Padahal, di saat itu Ati ditinggalkan suaminya dengan anak semata wayangnya yang berusia dua tahun 6 bulan.

Saya cerai dengan suami tahun 2001. Semenjak saat itu saya berjuang hidup bersama putri semayang saya,” katanya.

Berjuang sendiri membesarkan seorang putri dengan kondisi ekonomi yang terbatas dan nyaris kekurangan, Ati tetap melanjutkan hidup dengan mengais rezeki lewat usaha dagang.

Saya tinggal bersama orangtua saya, tapi setiap hari saya usaha dagang pakaian dari rumah ke rumah,” tuturnya.

Beruntungnya, di tengah kesulitannya dia mendapat bantuan dari orang-orang yang merasa iba kepadanya, salah satunya lewat bantuan bahan pakaian untuk dijual.

Jualan pakaian gak pakai modal karena barangnya dari orang, saya hanya ngejualin, laku baru bayar,” tuturnya.

Walau hanya dengan berdagang dari pintu ke pintu, gang ke gang, dia mampu menguliahkan anaknya sampai meraih gelar sarjana.

Alhamdulillah anak saya sudah lulus S1 Keperawatan tahun 2018 kemarin,” tuturnya.

Tak hanya sampai di situ, putri semata wayangnya juga langsung menemukan tambatan hatinya, sehingga menambah anggota keluarga Ati. “Saya juga sudah punya seoang cucu sekarang,” ucapnya sumringah.

Bisa dikatakan tugasnya sebagai orang tua, terlebih orang tua tunggal sudah bisa dikatakan sukses sebab anaknya sudah menamatkan jenjang perguruan tinggi dan kini sudah menikah. Meski demikian, Ati masih terus berjuang, hanya saja perjuangannya saat ini jauh lebih luas karena memikirkan nasib masyarakat banyak.

Saya juga berprofesi sebagai juru pemandian jenazah,” tuturnya.

Awalnya dia merasa iba dengan warga sekitarnya yang mengeluhkan mahalnya biaya pemandian jenazah. Lalu dia memutuskan untuk mengikuti pelatihan pemndian jenazah di tahun 2017.

Saya terpanggil untuk membantu masyarakat dengan apa yang saya bisa, salah satunya dengan membantu pemandian jenazah,” tuturnya.

Dalam melakukan tugasnya sebagai juru pemandian jenazah, dia tidak pernah sekalipun mematok tarif. Bahkan, di acap kali menyediakan peralatan mandi hingga kain kafan yang diberikan secara cuma-cuma kepada jenazah dengan keluarga yang kurang mampu.

Saya gak pernah minta bayaran, kalau ada yang terus memaksa untuk membayar saya, uangnya saya terima untuk menghargai mereka, lalu saya gunakan untuk membeli kain kafan lagi agar bisa digunakan bagi warga yang tidak mampu lain,” bebernya.

Tidak cukup sampai di situ, dia juga aktif sebagai juru advokasi kesehatan masyarakat. Dia rela mencurahkan waktu dan tenaganya untuk membantu masyarakat miskin yang sedang sakit tapi tidak punya biaya.

Saya membantu mengurus pembuatan KIS sampai dengan mengantar mereka yang sakit dirawat di rumah sakit,” pungkasnya. (*)

Editor : Junior Williandro

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.