Musim Kemarau, PDAM Pastikan Stok Air Bersih di Depok Aman

air bersih fCSgfa

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Terik mentari di Depok beberapa hari ini sedang panas-panasnya. Kemungkinan besar ini dikarenakan adanya masa transisi dari musim penghujan menuju musim kemarau, yang diprediksi akan dimulai pada bulan Juni mendatang oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berbicara tentang kemarau, tidak lepas kaitannya dengan ketersediaan air bersih. Soal ini, PDAM Tirta Asasta memastikan selama musim kemarau, stok air bersih masih aman untuk seluruh pelanggan.

Menghadapi musim kemarau memang secara umum debit air di Sungai Ciliwung, yang merupakan sumber sungai kita yang utama relatif mengalami pengurangan debit. Akan tetapi masih cukup untuk menyuplai kebutuhan pelanggan,” kata Direktur Umum (Dirum) PDAM Tirta Asasta, Ade Dikdik Isnandar, Rabu (11/5).

Ade mengatakan, pipa instalasi pengelolaan air PDAM Tirta Asasta mempunyai kapasitas eksisten sebesar 920 liter/detik. Dengan demikian, penyuplaian air bersih dapat didistribusikan kepada 78.000 pelanggan.

Jumlah ini masih sangat cukup, jadi tidak perlu khawatir. Meski demikian kami tetap mengimbau agar masyarakat bisa tetap bijak dalam menggunakan air,” tuturnya.

Dia menjelaskan, PDAM Tirta Asasta memiliki reserfoar air yang saat ini ada sekitar 12.000 meter kubik, yang sedang di bangun tambahan di legong dan di mawar totalnya 14.000 meter kubik. sehingga nantinya akan ada 26.000 meter kubik resorfoar.

Ini juga dalam rangka menjaga suplai air kepada masyarakat baik dalam konteks musim kemarau ketika debit air di ciliwung rendah, maupun dalam konteks musim hujan ketika debit air terlalu tinggi dengan nilai kekeruhan lumpur yang tinggi ini nanti akan membantu menjaga keberlangsungan atau kontinyunitas kepada pelanggan,” bebernya.

Untuk memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan, pihaknya menjaga fasilitas pendukung dalam rangka penditribusian yaitu adanya pompa yang selalu terjaga dengan baik. Kemudiann pasokan listrik juga termentenaince dengan baik. “Kami menjaga pompa yang akan memompa aliran air kepada pelanggan,” terangnya.

Dia berharap, masyarakat agar merubah budaya atau pola penggunaan air bersih dan air minum mereka, yang selama ini banyak menggunakan air tanah untuk segera mengurangi dan bahkan menghentikan penggunaan air tanah tersebut dan segera beralih kepada air perpipaan yang higenis yang sudah terjamin parameter kesehatan dan sanitasinya.

Kami PDAM Tirta Asasta mengajak masyarakat untuk menggunakan air PDAM. Tentunya dalam rangka menjaga kelestarian kota dan untuk mengkonversi air tanah untuk anak cucu kita di masa yang akan datang,” pungaksnya.

Sebelumnya, BMKG meminta masyarakat Bogor dan sekitarnya, termasuk Kota Depok, untuk mewaspadai cuaca ekstrem menjelang memasuki musim kemarau Juni 2022.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bogor, Indra Gustari menuturkan, setelah melewati puncak musim penghujan Januari-Februari lalu, wilayah Bogor dan Depok akan memasuki fase musim kemarau pada Juni 2022.

“Di wilayah Jawa Barat umumnya, musim kemarau mulai terjadi April hingga Juli 2022. Untuk wilayah Bogor dan Depok diprediksi terjadi pada Juni,” papar Indra

Kata dia, ada perbedaan awal musim kemarau pada tahun ini dibanding awal kemarau pada 2021 yang terjadi pada April di wilayah Bogor.

Mundurnya awal musim kemarau, lanjut Indra, dikarenakan kondisi La Nina lemah dan diprediksi berangsur menuju netral pada periode Maret–April-Mei 2022 dan saat ini, kondisi suhu muka air laut di perairan Jawa dan hampir seluruh Indonesia relatif lebih hangat dibanding normalnya.

“Puncak musim kemarau untuk wilayah Bogor diperkirakan umumnya terjadi pada bulan Agustus-September 2022,” kata Indra.

Untuk itu, lanjut Indra, perlu diwaspadai periode peralihan musim April hingga Mei 2022 berpeluang terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.

“Pada umumnya setiap masa peralihan musim terjadi cuaca ekstrem dan masyarakat perlu mewaspadainya,” terangnya.

Selain itu, pemerintah daerah dan masyarakat melakukan penyimpanan air pada masa peralihan musim hujan ke musim kemarau dengan memenuhi danau, waduk, embung kolam retensi dan penyimpanan air buatan lainnya.

Indra juga menambahkan, untuk menekan risiko penurunan hasil pada lahan sawah, pengelolaan air bagi kebutuhan pertanian harus dilakukan lebih hemat dan penggunaan varietas yang toleran kekeringan. (rd/dra)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Junior Williandro

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.