Pemkot tak Takut Hepatitis Akut

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah kota tetap melaksanakan sejumlah agenda penting di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap mewabahnya Hepatitis akut di Bekasi, baru-baru ini. Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di seluruh sekolah tetap berlangsung dengan pemberlakuan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Sebelumnya, seharian kemarin, santer tersiar kabar bahwa pemerintah kota bakal menunda PTM lantaran ditemukannya satu kasus Hepatitis akut pada anak usia sekolah di Bekasi. Terkait isu tersebut, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Ristek, Jumeri lantas memberikan klarifikasinya.

“Belum ada, kita perkuat prokesnya. Kalau dihentikan kapan anak kita bisa belajar,” kata Jumeri kepada Radar Bekasi, Selasa (10/5).

Klarifikasi pejabat teras kemendikbud itu dikuatkan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi, Inayatullah. Ia menyatakan PTM dipastikan tetap berlangsung besok (12/5) seperti imbauan yang sebelumnya diterbitkan. Hanya saja, Inayatullah menambahkan, pemberlakuan protokol kesehatan bakal diterapkan sangat ketat.

“Iyah, tetap masuk,” tegasnya.

Terpisah, terkait keberadaan pasien dugaan Hepatitis akut berusia 10 tahun 11 bulan yang sempat di rawat di salah satu Rumah Sakit (RS) swasta di Kota Bekasi beberapa waktu lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) meminta masyarakat tidak panik. Sebab hingga saat ini dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Hanya saja dinkes tak membantah bahwa pasien tersebut memiliki gejala mengarah pada Hepatitis akut. Fakta itu didapat saat penyelidikan epidemiologi pada tanggal 7 Mei. Oleh sebab itu, pada hari yang sama, pihak RS swasta lantas merujuk si pasien ke RS CM.

“Pasien tersebut juga sudah dirujuk ke RSCM, nah ini termasuk pasien atau kasus yang memang diduga. Kami tidak memastikan bahwa itu adalah Hepatitis, tapi baru diduga,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Tanti Rohilawati.

Sesuai dengan petunjuk yang telah diterima dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus dilaporkan kepada tim yang dibentuk Kemenkes setelah diterima laporannya oleh Dinkes kabupaten atau kota. Tanti telah menugaskan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi untuk memantau pemeriksaan hingga penegakan diagnosis untuk mendapatkan kepastian.

Jumlah Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) berupa RS dan Puskesmas masing-masing sebanyak 48 unit disebut telah memadai dan siap jika didapati kasus Hepatitis akut di Kota Bekasi.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengundang dokter spesialis anak guna menerima masukan. Singkatnya, langkah pencegahan yang mendasar dan pasti harus dilakukan adalah menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh masyarakat Kota Bekasi.

“Dalam jangka waktu dekat Dinas Kesehatan mau mengundang para dokter spesialis anak untuk mendapatkan masukan-masukan. Apa langkah-langkah yang harus diantisipasi oleh pemerintah Kota Bekasi terkait dengan kasus Hepatitis ini, meskipun penduduk Kota Bekasi belum ada yang kena,” tambahnya.

Sementara itu, belasan kasus Hepatitis akut di beberapa daerah nusantara terus bermunculan hingga kemarin. Pasien-pasien itu berasal dari DKI Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bangka Belitung. Dari 15 kasus yang diungkapkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin belum lama ini, 5 diantaranya meninggal dunia, sebagian besar berstatus suspek.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengaku telah membentuk tim ahli untuk mempersiapkan skenario apabila Hepatitis akut sudah sepenuhnya terindentifikasi secara medis. Ruangan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dipersiapkan jika didapati kasus suspek Hepatitis akut.

“Di Jawa Barat, tim ahli sudah dibentuk bersama RSHS (Rumah Sakit Hasan Sadikin). Laboratorium disiapkan untuk mengecek apakah ini kategori hepatitis akut dan lain sebagainya, saya cek sudah siap, bahkan teknologi molekuler terbaru sudah dimiliki,” kata Emil di RSHS Bandung belum lama ini.

Masyarakat diminta untuk tidak panik. Emil juga diminta untuk menjaga kebersihan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Sejauh ini kata Emil, belum ada kasus ditemukan di Jawa Barat.

Sebelumnya, Epidemiolog menduga fenomena Hepatitis akut ini erat kaitannya dengan Covid-19, meskipun hipotesa tersebut masih harus dibuktikan dengan serangkaian penelitian lebih lanjut. Lebih dalam Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman kepada Radar Bekasi menyampaikan bahwa laporan dari berbagai negara sebagian besar menjangkit anak usia dibawah 5 tahun dan belum diizinkan untuk menerima suntikan vaksin Covid-19, disamping hasil penelitian virus Covid-19 sebelumnya diketahui ikut berpotensi menyerang organ hati manusia.

Di banyak anak yang terinveksi, kadar adenovirus di dalam darah sangat kecil. Semestinya, pada tingkat kesakitan parah menunjukkan kandungan adenovirus yang tinggi, hal ini yang masih menjadi pertanyaan banyak pihak terhadap penyakit Hepatitis akut.

Dicky juga menyingung tidak ada kaitannya Hepatitis akut dengan vaksin Covid-19, dengan kata lain Hepatitis akut tidak disebabkan oleh vaksin Covid-19. Langkah utama yang mesti dilakukan saat ini adalah meningkatkan surveilans atau pengamatan yang sistematis dan terus menerus mulai dari Fasyankes paling dekat dengan masyarakat.

“Selain itu literasi, bahwa upaya pencegahan bukan hanya covidnya, tapi juga kesehatan diri, kesehatan lingkungan, makanan. Paparan dari makanan dan minuman kan besar ini bicara infeksi seperti Hepatitis ini,” paparnya.

Risiko sampai saat ini ada pada usia anak, mulai dari satu bulan hingga 16 tahun. Maka Dicky menilai penting memastikan beberapa hal saat PTM dimulai. Diantaranya status vaksinasi guru dan siswa, protokol kesehatan, terutama memastikan kondisi kesehatan pada anak-anak di jenjang Pendidikan Usia Dini (PAUD).

Merespon jumlah kasus di Indonesia, Dicky berpendapat penundaan PTM tidak perlu dilakukan selama mitigasi berjalan dengan baik.

“Jadi ini alasan untuk penundaan sekolah saya kira tidak atau belum lah ya. Jadi tetap saya kira tatap muka bisa dilakukan dengan mitigasi seperti itu,” tambahnya.

Pengawasan menurut Dicky mesti dilakukan harian secara rutin oleh tim yang terdiri dari dinas kesehatan setempat, public health, termasuk Epidemiolog untuk memberikan masukan strategi yang dirancang.(sur)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.