Pj Bupati Tawarkan Kelola Pasar Cikarang ke Investor

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Salah satu cara untuk menghemat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bekasi, Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, Dani Ramdan, berencana mencari investor untuk membangun Tempat Penampungan Sementara (TPS) bagi pedagang, serta mengelola Pasar Cikarang.

Karena sejauh ini, pedagang hanya berjualan di bangunan lama bekas kebakaran.

“Pembangunan TPS ini, merupakan bagian dari lanjutan rencana revitalisasi Pasar Cikarang, sejak terbakar pada 2015 lalu,” kata Dani, Minggu (19/6).

Pasar yang berlokasi tepat di pusat kota ini, tidak kunjung dibenahi. Kondisi pasar pun tidak hanya kumuh, melainkan rapuh karena berulang kali dilalap api.

“Saya sudah meninjau langsung, dan cukup kaget karena kondisinya memang sudah demikian parah. Maka harus segera ada tindak lanjut. Dan dalam waktu dekat ini, setidaknya perlu ada TPS bagi pedagang. Saya berharap harus segera direalisasikan dalam waktu dekat,” ujar Dani.

Sebagaimana diketahui, tahapan revitalisasi Pasar Cikarang ini sudah digulirkan sejak 2018 lalu. Pasar dibangun dengan skema Build, Operate, and Transfer (BOT). Proses lelang pun telah dilakukan, nilai investasinya mencapai lebih dari Rp 500 miliar.

Hanya saja, revitalisasi tak kunjung dilakukan oleh pihak ketiga, selaku pemenang lelang. Persoalan ini pun tengah masuk proses pengadilan.

“Prosesnya tidak akan sebentar, sehingga harus ada langkah nyata dulu, yakni memindahkan pedagang ke TPS, karena kondisi sekarang sangat tidak memadai,” beber Dani.

Menurutnya, TPS ini, akan menampung para pedagang yang selama ini berdagang di pasar bekas kebakaran. Pedagang dipindahkan, lalu bangunan lama dipagari lalu dirobohkan. Tujuannya, ketika proses revitalisasi dilakukan, para pedagang tetap bisa berjualan.

“Jadi, pedagangnya dipindahkan, lalu bangunan dirobohkan, disterilkan. Nanti setelah proses pengadilan selesai, pihak ketiga bisa lebih cepat melakukan pembangunan,” terangnya.

Dani menambahkan, Pemkab Bekasi sebenarnya telah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan yang akan digunakan untuk TPS pedagang. Namun saat ditinjau langsung ke lapangan, harga lahan tersebut jauh melambung tinggi.

“Jadi ada dua lahan. Pertama, tepat di samping pasar, dan itu milik Sentra Grosir Cikarang (SGC). Tapi setelah ditanya, rupanya lahan itu sertifikatnya belum atas nama SGC. Sehingga, prosesnya akan panjang, sementara pemindahan pedagang saya pikir harus disegerakan,” tutur Dani.

Sedangkan satu lahan lainnya, milik perorangan yang berada di seberang Pasar Cikarang. Akan tetapi, lahan tersebut memiliki nilai jual yang terbilang tinggi. Maka, sebagai solusi, pembangunan TPS pedagang itu ditawarkan ke swasta.

“Lahannya di mana, ya di dua lokasi tersebut. Jadi terserah, apakah swasta mau membelinya, atau menyewa. Yang jelas, silahkan itu dibangun, nanti pemda yang akan sewa. Anggaran untuk pembebasan lahan, itu akan dialihkan untuk menyewa lahan,” ucap Dani.

Dirinya menegaskan, peluang kerja sama ini terbuka bagi siapa saja. Dani pun memastikan prosesnya berlangsung transparan, sehingga bisa dipantau oleh pedagang maupun masyarakat luas.

“Ada yang bilang, pihak swasta kalau berurusan dengan pemerintah, minatnya kurang, sebab katanya fee-nya besar. Tapi saya tegaskan, untuk kegiatan ini tidak ada fee apa pun. Silakan dibangun, dan saya ingin secepatnya, karena ini harus terlaksana dalam waktu dekat,” beber Dani.

Sebelumnya, para pedagang mengharapkan, ada kejelasan rencana pembangunan TPS . Sebab, kondisi pasar dinilai sudah tidak layak. Bahkan, para pedagang terpaksa berjualan di bekas gedung yang terbakar, lantaran tidak ada lahan pengganti.

“Saya juga bingung, ada yang bilang mau dibangun, tapi ada juga mengatakan ditunda, soalnya bermasalah. Jadi bagaimana ini? Sosialisasi pun tidak pernah ada,” ungkap salah seorang pedagang, Ditha (41).

Menurut dia, rencana pembangunan pasar telah beredar di kalangan pedagang sejak lama. Bahkan tidak lama setelah pasar terbakar, wacana tersebut sudah pernah tersiar. Hanya saja, empat tahun berlalu, wacana tersebut tidak pernah terealisasi.

“Jadi, beri kami kejelasan. Jangan dibiarkan kami begini terus. Kalau ditanya bagaimana penjualan, jauh dibandingkan waktu ada pasar. Pembeli juga kan nggak nyaman kalau kondisinya seperti ini,” tegasnya.

Hal serupa diungkapkan pedagang lainnya, Zaza (43). Dia mengaku heran dengan perkembangan Pasar Cikarang.

“Beda jauh dengan Pasar Lembang. Padahal, waktu kejadian kebakarannya selisihnya tidak lama. Tapi, begitu saya ke Pasar Lembang,  malah sudah jadi, dan bagus,” pungkas Zaza. (and)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.