Depok  

PT KAI Tutup Tiga Pintu Kereta Ilegal dari Citayam hingga Bojonggede

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Buntut dari kecelakaan mobil versus kereta, di perlintasan Rawa Geni, beberapa waktu lalu, ternyata masih berlanjut. Setelah menutup pintu kereta ilegal Rawageni, kini PT KAI Commuterline kembali melakukan langkah tegas dengan menutup permanen tiga pintu kereta liar dari Citayam hingga Bojonggede.

Upaya ini guna mengantisipasi terjadinya kecelakaan yang kerap terjadi di jalur kereta api lantaran ada Palang pintu perlintasan kereta api ilegal. Penutupan secara langsung dilakukan PT KAI Daop 1 Jakarta.

Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Eva Chairunnisa menegaskan, penutupan perlintasan sebidang berdasarkan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

“Hal tersebut juga bertujuan untuk mengantisipasi adanya kecelakaan. Demi kebaikan dan keamanan masyarakat maupun pengendara,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pada Pasal 94 menyatakan bahwa untuk keselamatan perjalanan kereta api dan pemakai jalan, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup.

Penutupan perlintasan liar tersebut dipastikan akan dilakukam dalam waktu dekat ini. Tiga pintu kereta ilegal berada di gang sepanjang jalan Citayam hingga Bojonggede.

“Dalam waktu dekat, penutupan perlintasan liar dilakukan di petak jalan Citayam-Bojong Gede yakni di KM 39+9/0 Jl Gang Pinang, KM 41+2/3 Jl Gang Inpres dan KM 41+5/6 Jl Gang Paseban,” jelas Eva.

Pihaknya meminta agar masyarakat tidak menggunakan perlintasan liar tersebut. Tak hanya itu, warga sekitar juga jangan membuat perlintasan kereta api ilegal karena ancaman yang sangat berbahaya.

“Kita akan terus berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tertib dalam berlalulintas dan ikut menjaga keselamatan perjalanan kereta api,” harapnya.

Bila dilihat dari pantauan Radar Depok ada 10 perlintasan kereta api yang dijaga warga setempat untuk memudahkan akses masyarakat setempat, mulai dari Stasiun Citayam dari Stasiun UI.

Adapun jaraknya sepanjang 13 kilometer, artinya sejauh jarak tersebut KAI hanya memiliki dua perlintasan secara resmi, pertama di Jalan Dewi Sartika dan di perlintasan Pondok Cina.

Sebelumnya, penjaga pintu perlintasan kereta api rawageni, yang terdampak penutupan permanen dari PT KAI, Ahmadi menyampaikan, banyak warga sangat keberatan dengan keputusan tersebut jika tidak ada solusi yang dalam hal ini akses jalan untuk melewati perlintasan kereta api.

“Seharusnya ada solusi dari penutupan pintu kereta rawageni, misalnya dijadikan pintu kereta yang resmi jadi warga bisa melaluinya,” ungkap Ahmadi beberapa waktu lalu.

Memang katanya, beberapa waktu sebelumnya petugas dari PT KAI menyambangi lokasi, dengan pemberitahuan penutupan pintu kereta secara permanen disepanjang jalur citayam.

“Apa yang diberitahukan petugas KAI juga telah disampaikan ke warga. Ya itu, warga keberatan karena tidak ada akses jalan yang layak kalau ditutup” tandasnya. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.