Sopir dan Kernet Truk Tangki Pertamina jadi Tersangka

Kecelakaan Truk Pertamina

BEKASIPolda Metro Jaya menetapkan dua tersangka kasus kecelakaan maut di Jalan Raya Alternatif Transyogi Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (18/7). Mereka merupakan sopir dan kernet truk tangki bahan bakar minyak (BBM) Pertamina bernama Supadi dan Kasira.

“Penyidik Subditgakkum Polda Metro Jaya dan juga Satlantas Polres Metro Bekasi kota telah menetapkan dua orang tersangka terkait kasus ini,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan.

Zulpan menambahkan dugaan sementara terhadap peristiwa kecelakaan maut itu karena truk tangki BBM tersebut mengalami masalah rem.Namun Zulpan mengatakan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dibantu Korlantas Polri akan melakukan olah tempat kejadian perkara mendalam untuk mencari penyebab pasti kecelakaan maut tersebut.

Selain itu, Tes urine kepada supir diketahui negatif, atau tidak mengkonsumsi barang haram.

“Tadi malam sudah kita tes urine, negatif,” kata Kasatlantas Polres Metro Bekasi Kota, AKBP Agung Pitoyo Putro.

Keterangan dari supir dan kernet ini masih dibutuhkan untuk investigasi mengusut kecelakaan maut di awal pekan kemarin. Dugaan sementara hasil olah TKP, kecelakaan disebabkan oleh kondisi kendaraan tidak laik jalan.

Kemarin, supir dan kernet dimintai keterangan untuk menggali informasi mengenai kondisi keduanya pada saat mengemudikan kendaraan. “Kita juga akan melakukan pemeriksaan terhadap supir secara menyeluruh, baik itu kesehatan jiwa dan raganya, kondisi gimana kita dalami,” ungkap Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombespol Latif Usman.

Anggota Persaudaraan Pekerja Truk Indonesia Korwil Cibitung, Eko Purnomo melihat penetapan status tersangka kepada pengemudi truk setiap kali terjadi kecelakaan sebagai hukum alam. Ia merasa kecewa jika ada penetapan tersangka sebelum dipastikan faktor penyebab kecelakaan.

“Iya, itu memang sudah hukum alam, walau namanya musibah sudah ketetapan ilahi, dan tetap driver yang selalu disalahkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa dalam kondisi jalan menurun, pengemudi truk tidak bisa hanya mengandalkan rem manual, harus diimbangi dengan break engine serta penyesuaian transmisi. Terkait dengan dugaan rem blong atau tidak berfungsi, Eko menyebut banyak faktor yang melatarbelakangi, diantaranya bagian komponen pengereman dalam keadaan panas lantaran terlalu sering digunakan. Bisa juga, terljadi lantaran sparepart yang tiba-tiba rusak atau bocor.

Saat pengemudi tidak maksimal apalagi lalai mengontrol angin dalam rem, bisa dipastikan rem tidak akan berfungsi. Terkait dengan supir dan kernet truk tangki yang saat ini berada di Polres Metro Bekasi Kota, Eko berharap keduanya tabah menjalani proses yang sedang berjalan.

“Dimudahkan urusannya, bisa secepatnya beraktivitas kembali, karena keluarga juga membutuhkan nafkah,” tukasnya

Sementara itu, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, Djoko Setijowarno mengatakan bahwa hasil investigasi KNKT akan menjadi rujukan dalam mengungkap peristiwa yang telah menghilangkan nyawa puluhan pengendara ini. Investigasi akan menghasilkan rekomendasi atas peristiwa tersebut.

Ia menegaskan bahwa supir angkutan barang bukan tumbal. Jika kejadian ini terus berulang, dikhawatirkan tidak ada lagi yang bersedia menjadi supir truk.Terlebih, supir truk adalah tulang punggung keluarga. Maka, saat supir menjadi korban kecelakaan, keluarga yang bersangkutan akan kehilangan sumber pendapatan keluarga.”Kalau hidup jadi tersangka, kalau meninggal dunia keluarga sengsara,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, TL sedianya dibangun untuk kepentingan umum, tidak dibangun hanya atas dasar alasan-alasan komersil.Hasil investigasi sementara KNKT juga menyebut ada kegagalan pengereman oleh pengemudi. Namun, hipotesa ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana kegagalan dalam pengereman kendaraan itu terjadi.

Penjelasan yang didapat dari pengemudi, faktor kecelakaan bukan terkait dengan TL. Pengujian terhadap temuan ini akan dilanjutkan pada hari ini.”Jadi saya hanya berdasarkan penjelasan pengemudi, pengemudi merasakan kegagalan pengereman itu saja. Faktor utamanya apa, ini lagi saya cari,” ungkap Senior Investigator KNKT, Ahmad Wildan.

Terpisah, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution menyebutkan sopir truk dalam kondisi fit sebelum terlibat kecelakaan maut di Jalan Alternatif Cibubur, Kota Bekasi.

“Standar Pertamina, sopir mobil tangki itu ada dua. Jadi kami juga cek datanya, kondisi sopir dalam keadaan baik,” kata Alfian kepada wartawan di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Alfian menjelaskan pihak perusahaan selalu melakukan pengecekan kesehatan secara rutin sebelum sopir berangkat bekerja. “Sebelum mereka bekerja biasanya kita lakukan pengecekan kesehatan dan dari pengecekan kita, kondisi sebelum bekerja mereka fit dan siap bekerja,” ujar Alfian.(sur/jpc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.